Cerita Singkat, Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas

Cerita Singkat, Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas–Di tengah arus perubahan dunia pendidikan dan industri digital, metode kerja Agile mulai masuk ke dunia pelajar. Salah satu momen penting yang patut dikenang adalah Cerita Singkat Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas. Cerita ini bukan sekadar kisah tim kerja siswa biasa, melainkan tonggak awal dari transformasi cara belajar dan bekerja di lingkungan pendidikan vokasi.
Dengan semangat yang kolaboratif, rasa penasaran tinggi, dan juga bimbingan profesional, tim scrum pertama di Akademi Kombas telah berhasil membuktikan bahwa siswa SMK bisa memiliki mindset kerja profesional sejak bangku sekolah. Lalu, bagaimana perjalanan mereka? Mengapa cerita ini begitu penting? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Scrum dan Kenapa Penting?
Sebelum masuk ke cerita inti tentang Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas, mari kita bahas sedikit tentang Scrum itu sendiri.
Scrum adalah salah satu framework dari metode kerja Agile, yang berfokus pada kolaborasi tim, adaptasi terhadap perubahan, dan pengembangan bertahap (iteratif). Dalam scrum, tim terdiri dari beberapa peran utama:
- Scrum Master: fasilitator dan pengatur ritme kerja
- Product Owner: perwakilan pengguna/klien yang menetapkan prioritas tugas
- Developer: tim pelaksana yang mengerjakan tugas berdasarkan backlog
Scrum bukan hanya digunakan di perusahaan teknologi, tapi juga di pendidikan karena terbukti meningkatkan produktivitas dan membentuk kebiasaan kerja sehat.
Awal Mula Terbentuknya Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas
Cerita ini bermula saat Akademi Kombas ingin mengubah pendekatan praktik kerja lapangan (PKL) dan pembelajaran proyek agar lebih nyata dan berdampak. Pada tahun pelajaran 2022/2023, tim pengajar dan mentor Kombas mulai memperkenalkan metode Scrum ke siswa magang.
Setelah serangkaian pelatihan dasar Agile dan Scrum, terpilihlah beberapa siswa dari jurusan Rekayasa Perangkat Lunak dan Multimedia untuk membentuk tim scrum pertama. Mereka terdiri dari:
- 1 Scrum Master
- 1 Product Owner
- 3 Developer
Mereka bukan siswa terbaik di kelas. Justru mereka adalah campuran siswa dengan beragam kemampuan, dari yang pemalu sampai yang aktif, dari yang mahir desain sampai yang baru mengenal manajemen proyek.
Proyek Pertama: Merancang Kampanye Digital UKM Lokal
Tim Scrum pertama di Akademi Kombas diberikan tantangan nyata membuat kampanye digital untuk UKM lokal dalam waktu 4 minggu.
Sprint 1: Perencanaan dan Orientasi
Di sprint pertama, tim mulai membagi peran. Mereka menyusun backlog pekerjaan seperti riset audiens, desain konten, copywriting, dan distribusi di media sosial. Scrum Master mengatur daily meeting, sedangkan Product Owner fokus membuat user persona.
Sprint 2: Prototipe dan Uji Konten
Minggu kedua diisi dengan proses pembuatan dan uji desain. Mereka membuat storyboard video, desain poster digital, dan menyiapkan caption. Tim developer bekerja keras agar semua konten bisa dikurasi tepat waktu.
Sprint 3: Distribusi dan Monitoring
Konten mulai dirilis di berbagai platform: Instagram, TikTok, hingga WhatsApp broadcast. Tim juga menggunakan tools monitoring engagement untuk melihat performa konten secara real-time.
Sprint 4: Retrospektif dan Evaluasi
Di akhir minggu keempat, tim akan melakukan sprint review dan retrospektif. Mereka belajar dari kesalahan, mengapresiasi pencapaian, dan juga memberikan masukan satu sama lain.
Apa Saja Tantangan Tim Scrum Pertama?
Tak ada cerita sukses tanpa tantangan. Begitu juga dalam cerita singkat: tim scrum pertama di Akademi Kombas. Beberapa tantangan yang mereka hadapi antara lain:
- Kesulitan manajemen waktu antar tugas sekolah dan proyek
- Kurangnya pengalaman komunikasi profesional antarperan
- Tidak semua anggota langsung memahami prinsip Scrum
- Tantangan teknis seperti software error dan keterbatasan perangkat
Namun berkat pendampingan mentor dari Kombas, tantangan ini justru menjadi ladang pembelajaran yang nyata dan kontekstual bagi siswa.
Dampak Positif yang Dirasakan oleh Siswa
Hasil akhir proyek mereka memang membanggakan, tapi yang lebih penting adalah perubahan dalam diri siswa:
- Mereka lebih percaya diri saat presentasi
- Terbiasa berdiskusi dan menyelesaikan konflik secara dewasa
- Memahami arti kolaborasi yang sesungguhnya
- Mampu mengatur tugas dan waktu seperti profesional
Scrum membuat siswa merasakan atmosfer kerja dunia nyata. Bahkan, beberapa di antara mereka diterima magang lanjutan di startup karena menunjukkan kemampuan komunikasi dan kerja tim yang menonjol.
Scrum Kini Menjadi Standar di Akademi Kombas
Setelah keberhasilan tim pertama, metode Scrum kini menjadi pendekatan standar dalam kegiatan PKL, project-based learning, dan pelatihan di Akademi Kombas. Model ini tidak hanya efektif, tetapi juga mengubah cara siswa belajar: dari pasif menjadi aktif, dari individu menjadi tim.
Program seperti:
- Scrum Class (kelas proyek terstruktur)
- Scrum Coaching (pendampingan per tim)
- Sertifikasi Internal Agile for Student
…telah menjadi bagian penting dari roadmap pendidikan digital di Akademi Kombas.
Cerita singkat: Tim Scrum Pertama di Akademi Kombas adalah contoh nyata bagaimana metode kerja profesional bisa diterapkan sejak dini di sekolah vokasi. Dengan bimbingan yang tepat, siswa SMK mampu bekerja layaknya tim startup terorganisir, produktif, dan penuh inovasi.
Cerita ini bukan sekadar kisah sukses. Ini adalah ajakan untuk semua sekolah, siswa, dan orang tua bahwa pendidikan vokasi bisa lebih dari sekadar pelajaran di kelas. Ini tentang kesiapan menghadapi dunia nyata.
Ingin Terapkan Scrum di Sekolahmu?
✨ Ayo, wujudkan pembelajaran yang relevan dan profesional bersama Akademi Kombas!
📞 Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-2829-002
📸 Follow Instagram kami di @akademikombas untuk info program terbaru!
Bersama Kombas, siapkan siswa menghadapi masa depan dengan percaya diri dan siap kerja!

